
Pemerintah Indonesia melalui inisiatif Satu Data Indonesia (SDI) telah meluncurkan upaya untuk menciptakan sistem data yang terintegrasi, akurat, dan dapat diakses secara luas. Inisiatif ini bertujuan untuk memperbaiki tata kelola data di berbagai sektor, yang pada akhirnya mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan. Namun, salah satu dampak yang sering terlewatkan dari inisiatif ini adalah pengaruhnya terhadap ketahanan nasional, khususnya di era digital yang semakin kompleks.
Ketahanan nasional tidak hanya mencakup aspek militer, tetapi juga melibatkan stabilitas ekonomi, politik, sosial, dan informasi. Satu Data Indonesia dapat memperkuat dimensi-dimensi ini dengan memberikan akses terhadap data yang terintegrasi. Data yang akurat memungkinkan perencanaan strategis yang lebih baik, termasuk dalam pengelolaan sumber daya, penyelesaian konflik, dan pencegahan ancaman. Sebagai contoh, data demografi yang terintegrasi dapat membantu pemerintah memprediksi dan mengatasi potensi konflik horizontal berbasis sosial dan budaya.
Pada aspek keamanan digital, SDI juga memiliki peran strategis. Dengan sistem data yang terpusat dan terintegrasi, pemerintah dapat meminimalkan risiko kebocoran data yang selama ini sering terjadi akibat sistem yang terfragmentasi. Selain itu, pengelolaan data yang baik dapat memperkuat sistem pertahanan siber nasional, mengingat ancaman dunia maya semakin meningkat dan sering menyasar data penting negara.
Namun, dampak SDI terhadap ketahanan nasional tidak hanya pada pencegahan ancaman, tetapi juga pada penguatan identitas bangsa. Data budaya dan sejarah yang dikelola secara terintegrasi memungkinkan pemerintah untuk melindungi kekayaan budaya bangsa dari klaim pihak asing. Hal ini sekaligus menjadi bentuk soft power Indonesia di kancah internasional.
Di bidang ekonomi, SDI membuka jalan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dengan data yang transparan, pemerintah dapat memetakan potensi ekonomi daerah secara lebih akurat, sehingga pengambilan keputusan untuk pembangunan infrastruktur atau distribusi bantuan menjadi lebih tepat sasaran. Keberadaan SDI juga memungkinkan pengawasan yang lebih baik terhadap pengelolaan sumber daya alam, mengurangi potensi korupsi dan eksploitasi berlebihan.
Penerapan SDI juga memiliki dampak pada sektor pendidikan dan kesehatan, yang secara langsung berkaitan dengan ketahanan sosial. Data pendidikan yang terintegrasi dapat membantu pemerintah mengatasi kesenjangan akses pendidikan di berbagai daerah. Demikian pula, data kesehatan yang akurat memungkinkan penanganan cepat terhadap wabah penyakit atau bencana kesehatan lainnya.
Namun, inisiatif ini juga menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal implementasi dan keamanan. Sistem yang terintegrasi membutuhkan infrastruktur digital yang andal serta komitmen dari berbagai pihak untuk berbagi data secara terbuka. Di sisi lain, ancaman siber terhadap sistem terpusat juga menjadi risiko yang harus diantisipasi dengan kebijakan dan teknologi pertahanan siber yang memadai.
Keberhasilan SDI dalam memperkuat ketahanan nasional sangat bergantung pada kerja sama lintas sektor. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, dunia usaha, dan akademisi harus terlibat aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatan data. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya data juga diperlukan agar SDI dapat berjalan dengan optimal.
Dalam jangka panjang, SDI dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi ketahanan nasional. Dengan mengintegrasikan data dari berbagai sektor, Indonesia mampu menjadi negara yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan global. Selain itu, sistem data yang kuat memungkinkan Indonesia untuk mengambil keputusan strategis yang berbasis fakta, bukan sekedar asumsi.
Satu Data Indonesia bukan sekedar proyek teknokratis, tetapi juga sebuah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan nasional di berbagai dimensi. Jika dikelola dengan baik, SDI dapat menjadi salah satu pilar utama bagi Indonesia untuk mencapai visi besar sebagai negara maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.
Penulis: Dr. Fitry Taufiq Sahary
Editor: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc.